Header Ads

Pak Mendikbud, Ariflah Atas Makna UU No. 14 2005

Guru adalah profesi yang teramat mulia. Semua pemimpin bangsa pastilah pernah dididik oleh guru. Tentu guru harus dimaknai secara umum meskipun guru saat ini mengalami penyempitan makna yang hanya merujuk kepada orang yang mengajar di sekolah formal. Bahkan, setiap jenis pendidikan memiliki pengajar dengan istilah yang berbeda-beda.

Dosen adalah pengajar di perguruan tinggi. Widyaiswara adalah pengajar untuk lembaga pelatihan dan pendidikan guru. Instruktur adalah pengajar di lembaga pelatihan, dan seterusnya. Pada intinya, semua pengajar itu dapat dikembalikan kepada pemaknaan istilah “guru.”
Guru di sekolah formal memiliki 5 tugas, yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakannya, mengevaluasinya, meremidinya, dan melakukan pengayaan atas materi yang pernah diberikan. Untuk setiap jenis tugas ini, guru sudah diharuskan berhadapan dengan pekerjaan yang teramat berat. Tugas pertama adalah menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP yang biasanya disusun secara simultan untuk satu semester. Tugas kedua adalah melaksanakan RPP di kelasnya. Karena harus mengajar 24 jam per minggu, guru harus berusaha melaksanakan tugas itu secara terjadwal dan terstruktur agar semua kelas dapat dimasuki secara adil. Dan sebenarnya tugas terberat guru adalah melaksanakan evaluasi. Mengapa?

Jika harus mengajar 24 jam per minggu, guru harus mengevaluasi pekerjaan untuk 12 kelas dengan rata-rata 2 jam pelajaran per minggu. Jika satu kelas terdiri atas 40 siswa, itu berarti bahwa guru harus mengevaluasi 12 kelas x 40 anak = 480 pekerjaan siswa. Dalam satu semester, guru harus mengadakan evaluasi minimal 3 kali. Itu berarti bahwa guru harus mengevaluasi 480 x 3 = 1440 pekerjaan siswa. Sebuah jumlah yang teramat berat jika evaluasi itu dilakukan dengan baik, benar, dan kredibel.

Tugas makin berat akan dipikul guru jika nilai muridnya di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) karena guru harus mengadakan remidi atau perbaikan. Bagi murid yang sudah berhasil meraih nilai di atas KKM, guru tinggal memberikan tugas pengayan. Hasil mengevaluasi saja belum tentu rampung dengan baik, tetapi guru sudah dihadapkan kepada tugas berat lainnya. Atas kondisi di atas itulah, evaluasi sering dilaksanakan secara serampangan. Guru begitu mudah memberikan nilai bagus meskipun nyata-nyata si murid sama sekali tak menguasai materi pelajarannya. Gejala itu dapat dilihat pada nilai rapot. Sulit bagi kita selaku orang tua melihat nilai buruk yang tertulis di rapot anak-anak kita sedangkan nyata-nyata anak-anak kita tak bisa apa-apa. Dampak terburuk pemberian nilai itu adalah kian terpuruknya kualitas lulusan anak-anak kita.

Pak Mendikbud, bersikaplah arif atas UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Pahamilah bahwa tugas guru tidak hanya mengajar. Cobalah Bapak baca Pasal 35 bahwa (1) Beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan; (2) Beban kerja guru adalah sekurang-kurangnya 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu. Jika Bapak mencermati isi UU itu, tentu Bapak akan menemukan keganjalan yang harus dibenahi. Apa itu?


Pada pasal 35 ayat 1 disebutkan bahwa guru melaksanakan pembelajaran. Itu berarti bahwa guru harus berada di kelas. Itulah yang dinamakan tatap muka. Lalu, mengapa kegiatan merencanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan tidak dianggap sebagai tatap muka? Bukankah tugas itu tercantum dalam satu paket dalam satu ayat sebuah undang-undang yang sama? Mestinya setiap tugas itu dihitung juga sebagai tatap muka. Jika tatap muka hanya diartikan jam mengajar, secara logika, itu berarti bahwa guru tak perlu merencanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan!

Maka, Pak Mendikbud perlu memahami bahwa guru tidak hanya bertugas mengajar dengan sekadar mengadakan tatap muka di kelas. Di sekolah, guru juga diberi tugas lain yang tak kalah beratnya. Tugas-tugas guru yang lain selain mengajar adalah menjadi wali kelas, koordinator laboratorium, koordinator perpustakaan, pembina ekstrakurikuler, pembina OSIS, dan Pembina Pramuka. Belum lagi jika terjadi permasalahan antara murid yang melibatkan pihak luar. Jika tatap muka hanya diartikan mengajar anak didik di kelas, lalu siapakah guru yang bersedia menjadi pelaksana tugas tambahan lainnya tersebut jika keringatnya tidak dihargai?

No comments

Theme images by enjoynz. Powered by Blogger.