Header Ads

Memulihkan Fungsi Komite Sekolah

Munculnya dugaan keberadaan komite sekolah yang dinilai tidak efektif keberadaannya hingga mencapai angka 40 persen, merupakan fenomena gunung es pengelolaan sebuah layanan pendidikan. Penggambaran tersebut menyiratkan keberadaan komite sekolah tidak lebih dari basa basi pendidikan untuk mencapai aspek kuantitas semata.


Dirunut lebih mendalam keberadaan komite sekolah sebenarnya dapat menjadi penghubung strategis antara pengguna dengan penyedia pendidikan namun semuanya pupus dengan konteks kekinian. Stigma mengemuka tentang keberadaan komite sekolah saat ini tidak lebih lembaga stempel bagi kebijakan pendidikan utamanya dibidang pembiayaan.

Persepsi miring komite sekolah ini secara tidak langsung memupus prinsip kesetaraan pembelajaran antara penyelenggara dengan pengguna layanan pendidikan. Melempemnya peran komite sekolah tak pelak menyuburkan pencideraan pembelajaran dengan beragam dalih penyertanya. Keberadaan komite sekolah ini terus dipertanyakan mengingat masih maraknya pencideraan pendidikan di sekolah, sementara komite sekolah masih tidak bergeming

Dalam tataran historis pembentukan komite sekolah adalah sarana komunikasi antara orang tua siswa dengan pihak sekolah dimana sang anak dititipkan disekolah. Peran ini selayaknya dikedepankan dalam penciptaan demokrasi pendidikan dan bukan sebagai peneguhan kapitalisasi pendidikan. Bagaimanakah selayaknya memberdayakan komite sekolah bagi kemaslahatan pendidikan? menjadikan pertanyaan pokok menyikapi keberadaan lembaga ini. 

Marjinalisasi peran komite sekolah saat ini tidak lebih disebabkan lembaga ini sebatas mewadahi kepentingan sesaat penghamba kebutuhan aktualisasi diri semata. Komite sekolah saat ini telah bermetamorfosis menjadi lembaga khusus dengan beragam keunggulannya. Banyak ditemukan keanggotaan komite sekolah tidak lebih meneguhkan eksklusifitas anggotanya sementara program penunjang pembelajaran tidak tersentuh. 

Logikanya manakala sebuah organisasi berisi pihak–pihak yang sudah terpenuhi kebutuhan fisiologisnya maka gengsi lembaga lebih dikedepankan. Dampaknya pun jelas terlihat setelah kritis kebijakan sekolah tidak pernah dibahas dengan proporsional namun proyek mercusuar yang dikedepankan. Mereka lebih bangga membangun bangunan megah dibandingkan bagaimanakah memberdayakan seluruh komponen sekolah untuk kemaslahatan pendidikan. 

Dalam beberapa kasus aktual sebagai pendidik saya mendapati beberapa fenomena menarik yakni susahnya pihak orang tua dalam membelajarkan anaknya disebabkan perubahan kurikulum 2013. Menariknya dalam pertemuan antara komite sekolah dengan pihak sekolah tidak pernah disinggung permasalahan tersebut justru bagaimana meningkatkan kualitas fisik sekolah bersangkutan. Walaupun bersifat kasuistis saya menyadari permasalahan tersebut akan dialami orang tua lain manakala anaknya mendapatkan pembelajaran berkurikulum 2013. Bukannya mengkambing hitamkan permasalahan absurb, namun selayaknya permasalahan tersebut tidak muncul jika pemberdayaan komite sekolah memadai. 

Peran Strategis

Peran strategis tersebut selayaknya menjadikan Komite sekolah tidak sebatas mengurus pembiayaan namun bagaimanakah pola pembelajaran dijalankan. Mispersepsi  kurikulum 2013 diatas merupakan salah satu contoh nyata betapa belum efektifnya keberadaan komite sekolah. Pada beberapa kasus sering kali ditemukan dugaan bullying oleh guru pada siswa  berujung pada tindakan aparat hukum dan kasus tersebut tidak perlu terjadi jika komunikasi efektif  berlangsung secara proporsional. Menyitir pernyataan seorang Guru SD Rumongso, bahwa   marahnya guru adalah marah mendidik maka selayaknya komite sekolah memiliki visi pengembangan pendidikan dan tidak ikut arus hujatan manakala terjadi dugaan sepihak adanya penyimpangan pembelajaran. Pola inilah yang saat ini belum dimunculkan dalam pengembangan komite sekolah bersangkutan

Mekanisme komunikasi pembelajaran selama ini masih ditemukan ketidak berimbangan posisi antara kedua pihak bersangkutan. Kesadaran peran kedua belah pihak untuk menciptakan demokratisasi pendidikan berbasis komite sekolah hingga saat ini masih jauh dari harapan. Keengganan masyarakat melaporkan penyimpangan selama kegiatan pembelajaran dengan beragam alasan, merupakan salah satu indikasinya. 

Kondisi ini sangat tidak kondusif bagi pengembangan pendidikan dikarenakan menumbuhkan tumpukan permasalahan dan berdampak sporadis di masa mendatang manakala sebuah permasalahan muncul. Dampak sistemik fenomena ini manakala permasalahan tersebut menyangkut kebijakan sekolah menimbulkan dosa tak termaafkan. Sedangkan manakala permasalahan tersebut dialami sang siswa maka kekhawatiran intimidasi lebih mengemuka yang berujung merugikan siswa secara akademis.



Lemahnya bargaining komite sekolah ini tidak lepas mekanisme keanggotaan pengurusnya. Disinyalir pola keanggotaan dalam komite sekolah lebih banyak pada aspek kedekatan dengan lembaga sekolah maupun ketokohan sang anggota dan terkadang menisbikan kompetensi keanggotaannya. Pihak pengurus komite sekolah lebih menyembunyikan idealisme pembelajaran dibandingkan mengalami “permasalahan” dengan anak-anaknya.

Dampaknya pun jelas terlihat, dengan pola keanggotaan dan mekanisme misi yang diusung komite sekolah cenderung untuk pasif manakala bersinggungan dengan pembelajaran. Misi kontraproduktif komite sekolah ini dalam jangka panjang menjadikan pembelajaran berlangsung sebatas text book semata dan menisbikan perbedaan karakteristik siswa yang terus berkembang. Kondisi ini sangat tidak kondusif dan manakala dibiarkan berlarut-larut semakin meneguhkan pendidikan tidak ubahnya hidup di menara gading dan tidak linier dengan perkembangan masyarakat dalam beragam konteks.

Reposisi komite sekolah untuk kemaslahatan pendidikan merupakan sebuah keniscayaan, upaya untuk mewujudkan kebermaknaan komite sekolah ini dapat dilakukan dengan beragam langkah diantaranya bangun konstruktivisme edukatif, merupakan langkah awal reposisi komite sekolah ini, bentuk langkah ini bisa diberlakukan dengan mengembangkan peran sekolah bersangkutan minimal mengembangkan sikap kritis komite sekolah. Prinsip pengembangan sikap kritis ini tentunya berpijak realitas penyelenggaraan pendidikan. Sangat diperlukan bagi komite sekolah ini untuk mendorong terjadinya kontrak belajar selama proses pembelajaran berlangsung. Tindakan ini diperlukan untuk menanggulangi beragam pencideraan pendidikan yang kerap terjadi. Bullying selama proses pembelajaran tidak perlu terjadi manakala kontsruktivisme pendidikan terbangun dengan optimal.   

Ubah komposisi komite sekolah, menjadi langkah lanjutan dalam reposisi komite sekolah untuk kemaslahatan jama’ah. Saat ini susunan komite sekolah lebih mendasarkan ketokohan pihak-pihak yang mempercayakan pendidikan anaknya  di lembaga bersangkutan. Dampaknya komite sekolah tak jarang sebagai sarana titip nama untuk menambahkan gengsi sang tokoh. Parahnya aksi titip nama ini tidak diikuti titip kerja sehingga banyak ditemukan sebuah komite sekolah dengan keanggotaan sangat mentereng namun teramat cempreng dalam menyikapi kebijakan sekolah bersangkutan.


Pola keanggotaan lebih memposisikan  ketokohan pribadi bersangkutan ini bukanlah representasi orang tua siswa bersangkutan. Mainstream komite stempel pun tak pelak dialamatkan pada komite sekolah mengingat keputusan yang diambil tidak sejalan dengan kebutuhan riil mayoritas siswa sekolah tersebut. Bahkan kerap ditemukan keanggotaan komite sekolah diisi oleh tokoh yang anaknya sudah tidak belajar di sekolah bersangkutan.  Selayaknya memperhatikan beban edukatif yang diusung, keanggotaan komite sekolah diisi pihak-pihak dengan kompetensi tinggi dalam pemberdayaan pendidikan. Reposisi pola keanggotaan ini juga bukan sekedar untuk membuka lapangan kerja baru namun harus proporsional dengan kebutuhan sekolah bersangkutan. 

Menyitir falsafah jawa komite sekolah bukanlah komite dengan keanggotaan bersifat legan golek momongan, namun selayaknya menjadi komite memberdayakan bagi kemaslahatan pendidikan seutuhnya. Harapan akan tinggal harapan jika sang anggota hanya menonjolkan ketokohan di luar aspek pendidikan.

Sumber :

No comments

Theme images by enjoynz. Powered by Blogger.